31 Des

Murabahah

Apakah Akad Murabahah…?

Murabahah sendiri berasal dari kata ar-ribhu dari bahasa Arab yang artinya adalah, kelebihan dan tambahan (keuntungan). Sedangkan sebagai istilah, definisi Murabahah adalah jual beli barang pada harga asal, dengan tambahan keuntungan yang disepakati.

Dalam ranah ekonomi syariah, murabahah sendiri mengandung arti sebagai transaksi penjualan barang dengan menyatakan harga perolehan dan keuntungan (margin) yang disepakati oleh penjual dan pembeli.

Berdasarkan fatwa DSN (Dewan Syariah Nasional) Majelis Ulama Indonesia (MUI), Fatwa 04/DSN-MUI/IV/2000, akad Murabahah adalah,”Menjual suatu barang dengan menegaskan harga belinya kepada pembeli, dan pembeli membayarnya dengan harga yang lebih sebagai laba”.

Dalam praktik transaksi keuangan syariah di Tanah Air, pembayaran atas akad jual beli murabahah dapat dilakukan secara tunai maupun kredit. Yang menarik, hal yang membedakan murabahah dengan jual beli lainnya adalah, penjual harus memberitahukan kepada pembeli tentang harga barang pokok yang dijualnya, serta jumlah keuntungan yang akan diperoleh.

Transaksi jual beli murabahah itu sendiri bisa dilakukan, apabila rukun-rukunnya terpenuhi. Yaitu harus ada pihak-pihak yang bertransaksi, kemudian harus ada obyek murabahah-nya, serta dilakukan ijab dan kabul perjanjian jual beli murabahah tersebut.

Selain itu, ada pula persyaratan-persyaratan tersendiri yang harus dipenuhi dalam transaksi murabahah ini, yaitu: Pertama, penjual harus memberitahu biaya modal kepada nasabah, Kedua, kontrak pertama harus sah sesuai dengan rukun yang ditetapkan. Ketiga, kontrak harus bebas riba. Keempat, penjual harus menjelaskan kepada pembeli apabila terjadi cacat atas barang sesudah pembelian. Kelima, penjual harus menyampaikan semua hal yang berkaitan dengan pembelian, misalnya: jika pembelian dilakukan secara utang. Jadi di sini terlihat adanya unsur keterbukaan.

Apabila peryaratan-persyaratan di atas tidak dipenuhi oleh si penjual, maka si pembeli memiliki dua pilihan, yaitu terus melanjutkan transaksi, atau membatalkan transaksi.

Hakekat akad murabahah ini adalah jual-beli barang dengan harga (modal)-nya diketahui oleh kedua belah pihak yang bertransaksi, yaitu penjual dan pembeli, dengan pengambilan keuntungan yang juga diketahui oleh keduanya. Misalnya, seorang penjual menjelaskan kepada si pembeli berapa modalnya untuk membeli suatu barang yaitu Rp 1 Juta. Selanjutnya, dia akan menjelaskan juga kepada si pembeli, bahwa ia akan mengambil keuntungan Rp 200 Ribu. Apabila si pembeli sepakat, maka harga jual yang ditransaksikan adalah Rp 1,2 Juta. Dari deal tersebut, maka tinggal dilanjutkan dengan kesepakatan berikutnya, yaitu tentang tata cara pembayarannya, apakah dengan cara tunai, atau dengan cara dicicil. Cukup sederhana, bukan?

Contoh:

Nasabah akan membeli rumah seharga Rp 200 Juta secara diangsuran. Dan pihak bank syariah akan membeli rumah yang diinginkan nasabah sebesar Rp 200 Juta dari developer. Bank syariah kemudian menjual rumah yang telah dibelinya tersebut kepada nasabah, dengan harga yang telah ditambahkan margin keuntungan, yang jumlahnya telah disepakati antara bank syariah dan si nasabah. Misalnya, margin keuntungan yang disepakati adalah sebesar Rp 50 Juta. Maka, harga jual rumah tersebut menjadi Rp 250 Juta. Nasabah harus membayar uang muka sebesar 10% dari harga rumah tersebut secara tunai kepada bank syariah. Sementara sisanya yang 90% harus dibayar si nasabah secara angsuan. Besarnya uang muka berbeda-beda, sesuai dengan kebijakan bank syariahnya. Dan nasabah harus komitmen dengan kesepakatan jual beli dengan pihak bank syariah tersebut hingga kewajibannya selesai.

Kelebihan dari skema akad murabahah yang menggunakan metode pembayaran angsuran di atas adalah, terciptanya kepastian jumlah angsuran yang harus dibayar oleh nasabah setiap bulan. Nasabah tidak akan dipusingkan dengan masalah naiknya angsuran apabila terjadi kenaikan suku bunga pasar atau gonjang-ganking ekonomi. Karena besarnya nilai angsurannya adalah tetap, sampai masa angsurannya selesai. Hal itu dikarenakan harga jual rumah ditetapkan di awal ketika nasabah menandatangani perjanjian pembiayaan jual beli rumah.

Selain untuk pembelian rumah, transaksi akad murabahah di lembaga keuangan syariah juga bisa dipakai untuk pembelian kendaraan bermotor (mobil/ motor), peralatan pertanian, dan berbagai jenis barang/produk lainnya.

Mudah-mudahan artikel ini bermanfaat bat Anda….!!!

31 Des

KPR Syariah Vs Konvensional

Bismillahirrohmanirrohim…

Beberapa dari Anda mungkin sudah faham dengan skema KPR Konvensional, namun tidak ada salahnya bagi Anda lebih mengetahui lagi perbedaan antara KPR Syariah dan KPR Konvensional.

KPR Konvensional

  • Syarat dan ketentuan ditetapkan Bank pemberi kredit
  • Suku bunga disesuaikan dengan naik-turunnya BI rate atau kebijakan Bank
  • Apabila konsumen terlambat atau menunggak pembayaran akan dikenakan sanksi berupa denda
  • Ada pinalti yang harus Anda bayarkan saat melunasi KPR
  • Tenor berkisar 5 – 25 tahun

KPR Syariah 

  • Menggunakan prinsip akad Murabahah (jual-beli)
  • Tidak mengenal sistem bunga sehingga cicilan tetap selama masa tenor
  • Jika konsumen terlambat atau menunggak pembayaran, tidak akan didenda
  • Tidak ada pinalti yang harus Anda bayarkan saat melunasi KPR
  • Tenor berkisar 5 – 15 tahun

Mudah-mudahan ini bisa bermanfaat buat Anda dalam memilih produk KPR.

31 Des

KPR Syariah

Bismillahirrohmanirrohim…

Tidak ada salahnya bagi Anda, yang sedang mencari rumah, untuk memahami beberapa jenis KPR yang ada. Anda bisa memilih jenis KPR yang sesuai dengan kebutuhan. Salah satunya ialah KPR Syariah. KPR Syariah mengadaptasi sistem jual-beli syariah yang bebas dari bunga dan riba.

Perbedaan paling mendasar antara KPR syariah dan konvensional terletak di proses transaksi. Jika KPR konvensional melakukan transaksi uang maka KPR syariah bertransaksi barang (dalam hal ini rumah) dengan prinsip jual-beli (murabahah).

Dalam transaksi syariah, Bank syariah ‘seakan’ membeli rumah yang diinginkan konsumen dan menjualnya kepada konsumen dengan cara dicicil. Kredit rumah dengan skema syariah tidak mengenakan bunga, namun Bank/institusi mengambil margin keuntungan dari harga jual rumah.

Sebagai contoh:

Konsumen ingin membeli rumah yang harga tunainya Rp. 200 juta. Pihak Bank/Institusi syariah akan membeli rumah tersebut dan menjual kembali kepada Anda dengan mengambil margin keuntungan Rp50 juta. Maka uang yang harus Anda cicil selama masa tenor adalah Rp250 juta, dikurangi jumlah uang muka. Lamanya masa tenor dikembalikan kepada Bank/Institusi masing-masing.

Berikut ini beberapa poin yang membedakan KPR Konvensional dan KPR Syariah:

Kelebihan KPR Syariah

  • Cicilan bersifat tetap, tidak tergantung pada suku bunga Bank Indonesia.
  • Ketika ingin melunasi pembayaran lebih awal, Bank syariah tidak akan mengenakan penalti atau denda seperti pada KPR konvensional.
  • Dapat melakukan perencanaan keuangan bagi keluarga karena sifat cicilan yang tetap.
  • Saat ini, uang muka lebih ringan dibanding KPR konvensional, yakni bisa hingga 10%, bahkan beberapa Bank/Institusi ada yang menerapkan DP 0%.
  • Proses lebih cepat dengan persyaratan yang mudah sesuai dengan prinsip syariah.

Proses pengajuan KPR Syariah lebih mudah dengan prinsip Islami, namun terdapat beberapa syarat dan ketentuan yang wajib dipatuhi oleh calon debitur, sesuai dengan Bank/Institusi masing-masing.

Kini ada banyak lembaga perBankan/Institusi yang menawarkan produk KPR Syariah. Selain Bank Muamalat, beberapa Bank besar di Indonesia juga mulai membentuk lembaga perBankan syariah yang menyediakan produk KPR Syariah.

Jika sudah faham, silahkan Anda menentukan langkah selanjtnya…!!!

 

× WA